CONTOH KARYA TULIS UNTUK SMP

 

BAB I
PENDAHULUAN

 

A.    Alasan Pemilihan Judul

Penulis menyusun laporan ini dengan alasan :

  1. Ingin mengetahui benda-benda koleksi bukit sejarah perjuangan dan Pengabdian Pak Harto.
  2. Ingin mengetahui lebih dalam tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi Penulis berharap dengan judul “PENGAMATAN BENDA BERSEJARAH DI MUSEUM PURNA BHAKTI PERTIWI” Penulis dapat mengetahui secara detail tentang benda-benda bukti sejarah perjuangan dan pengabdian Pak Harto.

B.     Tujuan Penulisan

Penulis menyusun laporan ini bertujuan untuk :

  1. Untuk mendapatkan data guna melengkapi tugas dan memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti Ulangan Akhir semester 2 Tahun Pelajaran 2010/ 2011.
  2. Untuk memenuhi salah satu dari Program OSIS.
  3. Untuk menambah wawasan tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi.

C.    Metode Penulisan Laporan

Penulis menyusun Laporan ini dengan Metode :

  1. Pengamatan secara langsung.
  2. Mencari data dari berbagai sumber buku tentang Museum Purna Bhakti Pertiwi.

D.    Sistematika Penulisan Laporan

BAB I PENDAHULUAN

A.    Alasan Pemilihan judul

B.     Tujuan Penulisan

C.     Metode Penilitian

D.    Sistematika Penulisan Laporan

BAB II PEMBAHASAN

A.    Sejarah Museum Purna Bhakti Pertiwi

B.     Ruangan di Museum Purna bhakti Pertiwi

C.     Benda-benda bersejarah

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan

B.     Saran-saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

BAB II
PEMBAHASAN

 

A.    Sejarah Museum Purna Bhakti Pertiwi

Kata Museum berasal dari Yunani Mouseion yang berarti kau untuk Dewa Muses putra bapak Dewa Yunani Zeus dengan Monemosyne.

Saat ini Museum-museum di dunia di bawah naungan International Museum (ICOM). Definisi Museum menurut ICOM adalah : Sebuah lembaga tetap, Tidak mencari keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya terbuka untuk umum yang memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan menjadi lembaga untuk kepentingan dan pengkajian, Pembelajaran dan rekreasi.

Sejarah munculnya lembaga Museum di Indonesia tahun 1662 ketika Rumphus mendirikan De Ambonsch Rairter Tenkamer di Maluku dengan koleksi berupa kumpulan benda-benda aneh dan ilmu pengetahuan. Tahun 1778 Batavia Aschap Benootschap Van Kunsten En Wentenschhappen yang selanjutnya menjadi Museum Nasional.

Museum Purna Bhakti Pertiwi dibangun sebagai tempat melestarikan benda-benda bukti sejarah perjuangan dan Pengabdian Pak Harto kepada nusa dan bangsa.

B.     Ruangan Di Museum Purna Bhakti Pertiwi

1.      Ruang Perjuangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ruang Perjuangan terdiri dari 2 lantai : Lantai pertama berupa ukiran dinding yang menceritakan riwayat kehidupan Pak Harto dari lahir sampai beliau menjabat Presiden. Lantai dua berisi koleksi foto dokumenter, Replika I bendera pusaka, Pakaian militer, rompi anti peluru, dll.

Di tengah ruangan terdapat ukiran “Rama Tambak” dari pohon Sawo Kecik berasal dari Alas Purwo Banyuwangi Jawa Timur. Ukiran tersebut merupakan penggalan epik Ramayana yang menceritakan kisah perjuangan Sri Rama dalam menumpas angkara murka. Makna dari kisah tersebut adalah kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan.

2.      Ruangan Khusus

Ruang khusus yang terdiri dari 2 (dua) lantai ini menyimpan tanda kehormatan yang dianugerahkan kepada Pak Harto baik dari Pemerintah Republik Indonesia maupun luar negeri.

Seperti : Ethiopia, Filipina, Thailand, Ukraina, Belanda dsb. Selain itu Pak harto juga menerima penghargaan dar badan dunia. Seperti : “The Avicena” dari UNESCO” The Health for All” dari WHO “GLOBAL STATESMAN AWARD” Rice Importer to self Sufficiency dari FAO, UNDP.

Sedangkan yang diterima oleh Ibu Tien Soeharto berupa Penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia dan Luar Negeri berasal dari : Jordania, Kuwait, Perancis, Korea Selatan, Jerman Barat, Brunei Darussalam, Syria, Spanyol, Kamboja, Rumania, Jepang, Mesir, Ethiopia, Venezuela, Malaysia, Yugoslavia, Thailand, Austria, Belanda, dan Filipina selain itu juga menerima penghargaan dari PBB, Helen Keller International.

 

 

Keterangan :

1.      Binatang Republik Indonesia Adipurna (1)

2.      Bintang Maha Putra Adipura (1), 1968 Dari Pemerintahan Republik Indonesia

3.      Grand Coilier of the order of sheba, Dari Pemerintahan Republik Ethiopia, 1968

4.      Grand Coilier de L’ordre National de L’Independe dari Pemerintahan Kamboja.

5.      Bintang Republik Indonesia, dari Pemerintahan RI 1973.

6.      Orden del Libertador Grand Cordon, dari Pemerintahan Venezuela 1988

7.      Sonderstafe des Gross-Kreuzes (Special order of The Gorond (ross) dari Pemerintahan Republik Federasi Jerman 1970

8.      The Grand order of Mugunghwa, dari pemerintahan Republik Korea 1981

3.      Ruang Asthabrata

Ruang Asthabrata terdiri dari 2 (dua) lantai, lantai 1 berisi tentang delapan dasar kepimpinan yang dikenal dengan “Asthabrata” Delapan azas kepimpinan yang digambarkan melalui peraga wayang dengan lakon Wahyu Sri Makhuta Rama adalah delapan azas yang bersumber pada delapan sifat dan watak unsur alam yaitu bumi, angin, samudra, bulan, matahari, langit, api dan bintang.

Pada lantai II merupakan ruang pamer foto-foto Pak Harto beserta keluarga dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari baik sebagai seorang pemimpin Negara, kepala keluarga, maupun sebagai warga masyarakat.

C.    Benda-benda bersejarah

 

 

 

Ibu Tien Soeharto

Pemrakarsa dan pendiri Museum Purna Bhakti Pertiwi

 

 

 

 

 

 

 

Relief Perjungan Pak harto

1.      Gerabah, Keramik, dan Porselen

Koleksi benda dari bahan dasar tanah liat, termasuk dalam kategori Gerabah, keramik, dan porselen ketiganya di bedakan dari tingkat pembakaran Gerabah pada suhu 400-600ºC, Keramik dibakar pada suhu diatas 900ºC. Koleksi ini mendominasi lantai I Ruang utama, benda Fungsional atau non fungsional seperti tempayan, Guci, jambangan, mangkok, piring, alat makan minum, tempat perhiasan dan aneka patung.

Koleksi tersebut berasal dari dalam negeri maupun luar negeri seperticina, Jepang, koea, Amerika, dan Rusia. Selain koleksi pribadi tercatat beberapa tokoh penting dunia yang memberi Cenderamata antara lain Jp. Pronk, Henry Kissinger, michio Watanabe dan Piet Buk Man.

 

 

 

 

 

Patung Burung kakak tua, Gerabah, Cenderamata Marie Carmen Serra Puche, Direktur Museum Meksiko.

 

 

 

 

 

 

 

Jambangan, Porselen, Cenderamata Yong Hoon Kang, Perdana Menteri Korea

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Guci Keramik tertinggi 3,88 m, Karya Jing Dezhen, Cenderamata Darma Wanita Departemen Kehutanan.

2.      Wastra

Wastra merupakan istilah untuk menyebut berbagai macam kain yang dibuat melalui runtukan Tradisional dan biasanya penggunaannya berkenaan dengan adat, koleksi wastra di Museum antara lain berupa lembaran, baju adat, taplak meja, hiasan dinding dll, yang berasal dari pelosok tanah air seperti : Batik Yogyakarta, Solo, Jakarta, Madura, Pekalongan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tenun Ikat, Tarurung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara.

3.      Gelas dan Kristal

Kendati tehnik pembuatan dari bahan dasar yang digunakan hampir sama yaitu pasir yang dipanaskan dan diberi bahan campuran Alkali, namun lebih sering beranggapan bahwa Kristal mempunyai nilai jual tinggi dari gelas. Museum ini menyimpan aneka macam benda Kristal dari seluruh dunia diantaranya buatan jtueben, lalyque, Daum dll.

 

 

 

 

 

 

 

Miniatur Masjidil Haram, Kristal, Cenderamata PT. Garuda Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Gelas Kristal, Cenderamata Dr. Johennes Rou, Jerman

 

 

 

 

 

 

Cobalt Machia set, kaca, karya Dale Chihuly, Amerika Serikat.

4.      Kayu / Wood

 

 

 

 

 

 

Satu set Permainan Catur, Cenderfamata Nelson Mandela, Presiden Republik Afrika Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

“Keseimbangan antarfa Bumi dan langit”, Kayu jati, kayu sonokeling dan kayu limbah, Censeramata Mayjen. Soeyono, pangdam Diponegoro, Jawa Tengah.

5.      Ukiran “Langlang Buana”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ukiran “Langlang Buana” akar kayu karet, Karya I Wayan Asin, Bali.

Ukiran “langlang Buana” lebih dulu dibuat dari pada dibangunnnya Museum Purna Bhakti Pertiwi.

6.      Batu / Stone

 

 

 

 

 

 

 

Vas marmer, Cenderamata Petani supra insus dan trisus Nganjuk, jawa timur.

 

 

 

 

 

 

 

 

Miniatur masjid, Kerang mutiara, Cenderamata Yasser Arafat, pemimpin PLO

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Batu Kecubung, Cenderamata Albert Zati, Perdana menteri Republik Madagaskar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Miniatur Gedung Putih, perunggu, Richard Nixon, Presiden Amerika Serikat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kereta kuda, perunggu, Edward A.She Vardnadze, Menteri Luar Negeri Uni Soviet.

7.      Gamelan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gamelan “Kyai Dipo Asmoro” laras Slendro dan pelog berusia 130-an, dibuat pada Pemerintahan pakubuwono X Surakarta.

 

8.      Mobil Bersejarah

 

 

 

 

 

 

 

Oldsmobile 1965, digunakan Ibu tien Soeharto, Tahun 1969-1973.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ford galaxy, digunakan Bapak Soeharto, sewaktu menjabat sebagai Pejabat Presiden.

9.      Graha lukisan

Gedung yang memiliki 7 lantai ini menyimpan koleks lukisan karya pelukis kenamaan dari berbagai aliran baik dari dalam maupun luar negeri. Beberapa Pelukis yang karyanya memperkaya galeri ini antara lain Affandi, Hendra Gunawan, Basuki Abdullah, Sri Hadi, Jihan, Adi Pirous, Nyoman Gunarsa, Antonio Blanco serta palukis mancanegara seperti Juvenal Sanso, Bailey, Pablo Picasso, dan John F. Herring.

Sebagaimana koleksi lain, Koleksi lukisanpun terdiri dari koleksi pribadi dan cenderamata. Beberapa tokoh penting yang tercatat sebagai pemberi Lukisan adalah presiden Philipina Ferdenand Marcos, Presiden rep. Khmer Lon Nol, Presiden Rep. Korea Roh Tae Woo dan Presiden Rep. Rakyat Cina Yang Shangkun.

Sebagai tempat yang penuh nilai seni dilengkapi dengna fasilitas dua ruang pertemuan dengan daya tampung 500 s/d 1000 orang.

 

 

 

 

 

 

Bunga, Cat air di atas kanvas, karya Gunawan

 

 

 

 

 

 

 

 

“Jago Kesayangan”, cat minyak diatas kanvas, Karya Supriadi K.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berangkat mengaji, Caat minyak diatas kanvas karya Hs. Said

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 Kaum Papa, Cat minyak di atas kanvas, Karya Kartika 1972.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anonym, Cat minyak diatas kanvas, Karya Hendra Gunawan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.    Kesimpulan

Dari uraian diatas, maka Penulis dapat menarik esimpulan sebagai berikut :

  1. Pembangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi membutuhkan waktu lama.
  2. Museum Purna Bhakti Pertiwi menyimpan benda-benda seni yang bermutu.
  3. Benda-benda tersebut sangat bagus dan terlihat elegan.

B.     Saran-Saran

Setelah mengadakan pengamatan di Museum Purna Bhakti Pertiwi, penulis memberi saran Sebagai berikut :

  1. Penulis berharap agar Museum Purna Bhakti Pertiwi di jaga dengan baik agar salah satu bendanya tak ada yang hilang karena bendanya sangat langka.
  2. Apabila ada kesalahan dalam penulisan dan bahasa, penulis mohon maaf dan siap menerima kritikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Museum Purna Bhakti Pertiwi, 23 Agustus 2005

Museum Purna Bhakti Pertiwi, Jakarta

 

 

 

 

 

 

About these ads
By dickyfivers

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s